Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers
Beberapa pemain di Piala Dunia 2018 memiliki ayah yang juga pernah bermain pada putaran final turnamen serupa.
Tak banyak memang pesepak bola yang mampu menyamai capaian ayahnya yang pernah bermain di putaran final Piala Dunia.
Bahkan menjadi anak legenda sepak bola sekelas Franz Beckenbauer atau Johan Cruijff tak menjamin bakal mengikuti langkah sang ayah yang bermain di Piala Dunia.
(Baca juga: Nigeria Menang, Argentina dan Lionel Messi Punya Harapan, Istri Cesc Fabregas pun Senang)
Berikut pemain di Piala Dunia 2018 yang mampu menyamai capaian sang ayah.
Peter Schmeichel-Kasper Schmeichel (Denmark)
Fantastic to start the @fifaworldcup with a win #WorldCup #ForDanmark pic.twitter.com/kcjfAG8u3I
— Kasper Schmeichel (@kschmeichel1) 16 Juni 2018
Piala Dunia 2018 merupakan Piala Dunia pertama bagi Kasper Schmeichel.
Pada ajang Piala Dunia kali ini, Kasper tak hanya sekedar masuk skuat, tetapi sukses menjadi pilihan utama di bawah mistar gawang Denmark.
Pencapaian Kasper itu sukses menyamai hal yang pernah ditorehkan sang ayah yakni Peter Schemichel pada Piala Dunia 1998 di Prancis.
Namun demikian, Kasper masih sedikit lebih unggul dari sang ayah lantaran dari segi umur debut di Piala Dunia, ia lebih muda.
Kasper memulai debutnya di Piala Dunia pada umur 31 tahun, sedangkan sang ayah baru main di Piala Dunia pada usianya yang ke-34 tahun.
Ahmad Reza Abdezadeh-Amir Abdezadeh (Iran)
25yr old Iranian Marítimo goalkeeper Amir Abedzadeh: "My main goal is playing in Spain especially for Real Madrid. I've always liked to play for the Galacticos since I was a child. I take it seriously and talk to myself every day about that." pic.twitter.com/3kVj0Ibb1h
— M•A•J¹³ (@Ultra_Suristic) 29 April 2018
Keluarga Abdezadeh dari Iran punya pasangan ayah-anak yang pernah bermain di Piala Dunia.
Seperti keluarga Schmeichel dari Denmark, pasangan ayah-anak Abdezadeh juga berposisi sama yakni penjaga gawang.
(Baca juga: Bukan Saatnya Menganalisa Sesuatu, Kata Javier Mascherano soal Peluang Argentina)
Sang Ayah, Ahmad Reza Abdezadeh merupakan penjaga gawang legendaris Iran.
Ahmad Reza yang merupakan kapten Iran pada Piala Dunia 1998 di Prancis dan sukses membawa Team Melli lolos untuk pertama kalinya ke putaran final Piala Dunia pasca-Revolusi Iran pada 1979.
Dua puluh tahun berselang, jejak Ahmad Reza sukses diikuti sang anak yakni Amir Abdezadeh.
(Baca Juga: Satu Calon Lawan Egy Maulana Vikri Cs di Piala AFF U-19 2018 Cetak 11 Gol pada Uji Coba Terbaru)
Amir sukses menembus skuat Iran pada Piala Dunia 2018, sayangnya ia belum mampu menjadi pilihan utama di bawah mistar seperti sang ayah.
Miguel Reina-Pepe Reina (Spanyol)
¡Rumbo a Krasnodar! Volvemos a nuestra 'casa' en Rusia con 3 puntos importantísimos.
Desde ya, todos pensando en Marruecos para pasar de ronda
¡VAMOS, ESPAÑA! #HagamosQueOcurra #Rusia2018 pic.twitter.com/WRsN1Mfogw
— Selección Española de Fútbol (@SeFutbol) 20 Juni 2018
Miguel Reina merupakan salah satu penjaga gawang Spanyol pada Piala Dunia 1966 yang dihelat di Inggris.
Pada saat itu, Miguel yang bermain untuk Cordoba hanyalah kiper pilihan ketiga di timnas setelah Jose Angel Iribar (Athletic Bilbao) dan Antonio Betancort (Real Madrid).
Hal itu membuat Miguel Reina tak pernah sekalipun turun di ajang Piala Dunia 1966, yang di mana itu merupakan Piala Dunia pertama dan terakhir baginya.
Tiga puluh tahun berselang, anak Miguel yakni Jose Manuel Reina atau yang akrab dengan nama Pepe Reina berhasil mengikuti jejak sang ayah dengan menembus skuat Spanyol pada Piala Dunia 2006 di Jerman.
Nasib Pepe Reina sama seperti sang ayah, sebab hanya jadi kiper ketiga Spanyol pada Piala Dunia 2006 setelah Iker Casillas dan Santiago Canizares.
(Baca Juga: Baru Cetak Dua Gol Beruntun, Pemain Tersubur Kedua Liga 1 2017 Dikabarkan Tinggalkan Klub Thailand)
Pada Piala Dunia 2010, Pepe Reina kembali terpilih lagi masuk skuat Spanyol hanya lagi-lagi menjadi pilihan ketiga setelah Iker Casillas dan Victor Valdes.
Tetapi beruntungnya Reina, saat itu Spanyol mampu menjuarai Piala Dunia sehingga ia pun berhak ikut menyandang status juara dunia.
Pepe Reina baru mencatatkan debut Piala Dunia-nya pada 2014 di Brasil.
(Baca Juga: Bocah Berbakat Malaysia yang Diundang dan Main untuk Tim Muda PSG Sukses Bobol Gawang Klub Italia
Debut Reina dibuat saat bermain melawan Australia pada laga yang sudah tidak menentukan lagi sebab saat itu Spanyol yang bermain di laga ketiga grup B sudah tersingkir akibat kalah di dua laga sebelumnya dari Belanda dan Chile.
Pada Piala Dunia 2018, Pepe Reina kembali mampu menembus skuat Spanyol.
Dia kembali menjadi kiper cadangan bersama Kepa Arrizabalaga setelah David De Gea di posisi kiper utama.
Mazinho (Brasil)-Thiago Alcantara (Spanyol)
#Russia2018 pic.twitter.com/IJ3TSLhYuF
— Thiago Alcantara (@Thiago6) 21 Mei 2018
Pasangan ayah dan anak yakni Mazinho dan Thiago Alcantara sama-sama pernah bermain di Piala Dunia.
Namun uniknya, sang anak yakni Thiago bermain di negara yang berbeda dengan sang ayah yaitu Mazinho.
Mazinho merupakan pemain kelahiran Paraiba, Brasil pada 1966.
Sejak usia 24 tahun, Mazinho sudah melanglang buana ke Eropa untuk berkarier di Serie A.
Pada tahun 1991 tepatnya saat bermain untuk Lecce di Liga Italia, Mazinho dianugerahi seorang anak bernama Thiago Alcantara.
Thiago lahir di Italia tepatnya di San Pietro Vernotico.
(Baca Juga: Agen Cristiano Ronaldo Siap Bantu Putra Legenda Klub asal Surabaya Berkarier di Eropa)
Tiga tahun berselang setelah kelahiran Thiago, Mazinho dipanggil Brasil untuk bermain pada Piala Dunia 1994 yang dihelat di Amerika Serikat.
Bersama Romario dkk, Mazinho yang saat itu membela Palmeiras sukses memberikan Brasil bintang ketiganya alias berhasil membawa Brasil menjadi juara dunia.
Seusai membawa Brasil juara dunia, Mazinho pun direkrut klub Spanyol, Valencia.
(Baca Juga: Malaysia Sudah Siapkan Enam Pemanasan ke Piala AFF 2018, saat Indonesia Belum Tentukan Pelatih)
Saat itu pula lah anak Mazinho, Thiago ikut bersama sang ayah ke Spanyol sembari menempa ilmu sepak bola di negeri Matador itu.
Pada 2005, Thiago direkrut oleh tim akademi Barcelona sampai akhirnya ia memulai debut seniornya bersama Blaugrana pada 2009.
Tampil apik bersama Barcelona, Thiago yang sudah memegang paspor Spanyol pun didaftarkan ke skuat La Furia Roja yang akan bermain dalam laga persahabatan kontra Italia pada 2011.
Pada 2014, Thiago masuk ke dalam daftar 30 pemain yang dipersiapkan untuk Piala Dunia di negara leluhurnya, Brasil.
(Baca Juga: Pencetak 19 Gol di Liga Spanyol Ini Dikabarkan Buat Klub Kaya China Gigit Jari)
Hanya saja dua hari setelah ditetapkan, Thiago cedera dan harus mengubur mimpinya untuk tampil pada Piala Dunia 2014 di Brasil.
Piala Dunia pertama Thiago baru dijalaninya tahun ini setelah pemain asal Bayern Munchen itu dipilih Julen Lopetegui (pelatih Spanyol sebelumnya) untuk masuk ke dalam skuat Spanyol yang diboyong ke Rusia.
(Baca Juga: Evan Dimas Main 58 Menit, Selangor FA Nyaris Kalah di Kandang)
Chicharo-Chicharito
Hagamos realidad el sueño. ¡Vamos México! @miseleccionmx @adidasMX @adidasfootball #HereToCreate #SoyMéxico pic.twitter.com/jNENPHql6V
— Chicharito Hernandez (@CH14_) 20 Maret 2018
Chicharo atau Javier Hernandez Gutierrez merupakan salah satu gelandang Meksiko pada Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Bersama Meksiko, Chicharo berhasil menggapai fase perempatfinal Piala Dunia 1986.
Pada 1988, Chicharo dikaruniai seorang anak yang diberi nama Javier Hernandez Balcazar atau yang kelak dikenal dengan nama Chicharito.
Lahir dari ayah yang pesepak bola, Chicarito pun mewarisi DNA pesepak bola dari pihak sang ibu.
Ibu Chicarito, Silvia Balcazar merupakan anak dari penyerang Meksiko pada Piala Dunia 1954 yakni Tomas Balcazar.
(Baca Juga: David Laly Starter, Klub Malaysia Ini Mantap di Zona Promosi)
Memulai karier seniornya pada 2006 bersama Chivas Guadalajara, Chicharito berkarier di klub berjulukan Las Chivas itu selama empat musim.
Di musim terakhirnya pada musim 2009/10, Chicharito tampil subur dengan mencetak 21 gol dari 28 laga di Liga Meksiko.
Torehannya itu membuat Chicharito dipanggil ke skuat Meksiko untuk ikut serta ke Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, mengikuti jejak sang ayah pada 24 tahun sebelumnya.
(Baca Juga: Berhasil Cetak Gol Lagi di Thailand, Sahabat Cristiano Ronaldo Justru Dipermalukan Terens Puhiri Cs)
Bersama Meksiko saat itu, Chicharito yang baru berumur 22 tahun mampu mencetak dua gol dari empat laga di Piala Dunia 2010 dan sukses mengantarkan El Tricolore ke fase 16 besar.
Penampilan Chicharito di timnas Meksiko dan Chivas Guadalajara pun mampu menarik minat pelatih Manchester United kala itu, Alex Ferguson untuk merekrutnya.
Empat tahun berselang, Chicharito kembali masuk skuat Meksiko untuk Piala Dunia 2014 di Brasil.
Tahun ini, Chicharito menjalani Piala Dunia ketiganya setelah kembali masuk ke skuat Meksiko untuk Piala Dunia 2018 di Russia.
Alexandre Guimaraes-Celso Borges (Kosta Rika)
La vida y el fútbol son así. Unas veces se gana, otras se pierde. Lo importante es la actitud ante las dos situaciones. Gracias a toda la gente que nos sigue apoyando pic.twitter.com/GM3tmlM4C5
— Celso Borges (@CelsoBorgesCR) June 22, 2018
Alexandre Guimaraes adalah salah satu pemain yang sukses membawa Kosta Rika bermain di Piala Dunia pertamanya pada 1990 di Italia.
Pria yang lahir di Brasil ini boleh dibilang punya sumbangsih yang besar pada sepak bola Kosta Rika.
Sebabnya selain mampu membawa Kosta Rika mentas di Piala Dunia untuk pertama kalinya pada 1990, ia pun sukses membawa Kosta Rika mentas di Piala Dunia untuk kedua kalinya sebagai pelatih pada Piala Dunia 2002 di Jepang & Korea Selatan.
(Baca Juga: Pencetak 19 Gol di Liga Spanyol Ini Dikabarkan Buat Klub Kaya China Gigit Jari)
Empat tahun berselang, Guimaraes pun kembali membawa Kosta Rika tampil di Piala Dunia untuk ketiga kalinya pada Piala Dunia 2006 di Jerman.
Guimaraes memiliki anak kandung bernama Celso Borges yang juga mengikuti jejaknya sebagai pesepak bola.
Sama seperti sang ayah, Borges pun merupakan gelandang yang memperkuat timnas Kosta Rika.
(Baca Juga: Agen Cristiano Ronaldo Siap Bantu Putra Legenda Klub asal Surabaya Berkarier di Eropa)
Borges memulai debut untuk skuat senior Kosta Rika pada 2009.
Borges sempat memperkuat Kosta Rika pada kualifikasi Piala Dunia 2010 yang pada saat itu dilatih oleh Rodrigo Kenton.
Akan tetapi, pada akhirnya Borges belum sukses mengikuti jejak sang ayah pada saat itu.
Sebab, dia gagal membawa Los Ticos lolos ke puataran Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Barulah pada 2014, Borges baru bisa mencicipi Piala Dunia pertamanya sekaligus mengikuti capaian sang ayah, Alexandre Guimaraes.
Uniknya Piala Dunia pertama Borges dijalaninya di tanah leluhurnya yakni Brasil.
(Baca Juga: Kontrak Sisa Semusim, Bintang Tottenham Hotspur Ini Berpeluang Gabung Klub China)
Pada tahun ini, Borges pun kembali diangkut Kosta Rika ke Rusia untuk kembali memperkuat Los Ticos pada Piala Dunia 2018.