Terverifikasi Administratif dan Faktual oleh Dewan Pers
Hitung-hitungan menjadi tak sesederhana di atas mengingat Olimpiade merupakan kompetisi kelas dunia, sehingga secara otomatis level persaingan turut meningkat.
Indonesia yang dikenal sebagai salah satu kekuatan utama bulu tangkis dunia tentu saja memiliki peluang besar meraih medali emas pada Olimpiade 2020 lewat cabor ini.
Namun hal berbeda harus dirasakan enam cabor lainnya mengingat mereka belum teruji pada skala kompetisi dunia.
Secara hitung-hitungan juga menjadi lebih rumit karena perbedaan nomor perlombaan yang dipertandingkan antara Asian Games 2018 dengan Olimpiade 2018.
Sebagai contoh, panjat dinding Indonesia yang meraih 3 medali emas pada Asian Games 2018 terancam tak bisa menorehkan hasil serupa di Tokyo.
Pasalnya, panjat dinding yang berstatus cabor baru Olimpiade hanya bakal menyediakan 2 keping emas lewat nomor Kombinasi Bouldering, Lead, & Speed putra dan putri, yang notabene tak diperlombakan pada Asian Games yang lalu.
(Baca Juga: Berkenalan dengan Ursula Carbera, Atlet dan Perancang Busana Cantik asal Bolivia)
Contoh lain, taekwondo di Olimpiade 2020 hanya akan menggelar kategori Kyorugi, padahal medali emas Indonesia pada Asian Games 2018 datang dari kategori Poomsae.
Hal yang sama juga dialami Indonesia pada cabor sepeda gunung saat nomor downhill yang mempersembahkan dua emas tak dilombakan, karena Olimpiade 2020 hanya memainkan nomor cross-country.
Meskipun demikian, Olimpiade 2020 masih akan digelar sekitar dua tahun lagi.
Masih tersedia banyak waktu bagi atlet Indonesia, bahkan mereka yang tak meraih emas pada Asian Games 2018, untuk meningkatkan kemampuan mereka agar dapat tampil gemilang di Tokyo, Jepang.