Triumvirat, atau triumvirate dalam bahasa Inggris dan triumviratus dalam bahasa Latin, secara harfiah berarti tiga laki-laki. Biasa dipakai dalam sebuah rezim politik yang didominasi oleh tiga orang penguasa yang masing-masing disebut sebagai triumvir.
Penulis: Dian Savitri
Triumvirat di politik yang pertama kali terbentuk adalah pada zaman Romawi Kuno, berisi Julius Caesar, Pompey, dan Crassus, pada 60 Sebelum Masehi.
Di sepak bola, istilah itu belakangan diadopsi untuk menggambarkan sebuah trio yang sangat dominan dalam sebuah tim, sebuah trio yang bisa menentukan jalannya pertandingan dan hasil akhir.
(Baca Juga: Dilelang, Ini Harga Mobil Juara Milik Michael Schumacher pada F1 Musim 2001)
Triumvirat di sepak bola biasanya identik dengan pemain yang menempati posisi serangan. Jumlah gol dan assist menjadi lambang dominasi mereka.
Gara-gara trio MSN di Barcelona dan BBC di Real Madrid, maka istilah triumvirat di sepak bola pun sering muncul. Kadang disebut juga sebagai trident.
Sebenarnya, sejak kapan trio maut sepak bola muncul? Menurut Eurosport, trident terlawas adalah trio Real Madrid, Alfredo Di Stefano- Francisco Gento-Ferenc Puskas.
Trio itu terbentuk pada musim 1958/59, ketika Puskas pertama kali hadir di Madrid. Tanpa Puskas, Di Stefano dan Gento sudah mempersembahkan tiga trofi Piala Champion 1956, 1957, dan 1958.
Bersama Puskas, mereka meraih dua trofi lagi pada 1959 dan 1960, menjadikan Madrid klub pertama yang bisa memenangi trofi itu lima kali beruntun.
Dikisahkan pada final Piala Champion 1960 di Hampden Park, Glasgow, Madrid meluluh-lantakkan Eintracht Frankfurt dengan skor 7-3. Di Stefano membuaat tiga gol dan Puskas empat gol.
Pada akhir musim itu, Puskas menjadi pencetak gol terbanyak di Eropa, dengan 12 gol.
Setelah era Di Stefano-Gento- Puskas, muncullah holy trinity dari Manchester United yang berisi George Best, Denis Law, dan Bobby Charlton.
Ketiganya menjadi motor United menjadi klub Inggris pertama yang menjadi juara Piala Champion. Di final 1968, di Stadion Wembley, United mengalahkan Benfica.
(Baca Juga: Cincin Pertunangan Pacar Ronaldo Setara dengan 28 Unit Apartemen Meikarta)
Pada 1964 hingga 1969, Best-Law-Charlton mencetak total 665 gol. Ketiganya juga pernah dianugerahi Pemain Terbaik Eropa.
Dalam sebuah cerita di situs resmi United, pada 1964, Law membuat 46 gol dalam satu musim, sehingga mendapat Ballon d’Or.
Waktu berjalan. Banyak trio maut yang kemudian terbentuk dan sampai kepada trio BBC (Gareth Bale-Karim Benzema-Cristiano Ronaldo) dan trio MSN (Lionel Messi-Luis Suarez-Neymar).
(Baca Juga: Tak Terima, Kiper Tottenham Hotspur Bilang Harry Kane Bukan Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi)
Ketiga trio itu mengaduk-aduk Eropa, tidak hanya di liga domestik, di mana keduanya ada di Spanyol.
Tidak mengherankan kalau sebuah klub kaya yang berasal dari kota mode, Paris Saint-Germain, juga ingin membentuk sebuah trio yang harapannya akan menjadi salah satu catatan sejarah.
Dengan Edinson Cavani sudah tersedia, maka PSG pun membongkar ribuan tabungan untuk menceraikan MSN. Neymar pun ditarik.
Satu pemain lagi berusia masih muda, datang dari negeri mungil Monaco. Kylian Mbappe menjadi pelengkap trio MaCaN (Mbappe-Cavani-Neymar) di PSG.
Masih harus dinanti prestasi yang akan bisa diraih trio MaCaN di Eropa. Soalnya, selama ini, tolok ukur sebuah trio maut di Eropa adalah membawa klubnya meraih prestasi tertinggi di antarklub Eropa.
Editor | : | Bagas Reza Murti |
Sumber | : | BolaSport.com |
Komentar